Tentang Kami :
Blog ini di launch bertepatan dengan hari jadi dari salah seorang pembuatnya. Sebagai sarana untuk mengeluarkan buah pikir adalah tujuan kami memutuskan untuk memilih Blog, disamping kemudahan dan cepatnya informasi tercerap.
Pengusung Blog ini adalah :
1. Jihan Mirzah
2. Mujib Burahman
Sepertinya tidak ada yang istimewa hari itu, Jumat, 9 October 2009. Tapi pagi itu sang SM menyapa sembari memperkenalkan seorang pria muda berpenampilan laiknya Rahul Khan. Ya, seorang engineer india datang pagi itu. Keberadaannya melengkapi team yang memang sedang di ramp up, sesuai dengan resource dimensioning bapak delivery head.
Agak tidak meyakinkan pada impresi pertama. Itu kesan yang timbul. Sampai di sore hari ketika kantor mulai sepi, waktu untuk berdiskusi dengannya datang. Don't just the book by its cover adalah pelajaran pertama yang didapat hari itu. Lepas dari englishnya yang fluent, pengetahuan teknikal dan pengalaman kerjanya sungguh diatas rata-rata. Dan seperti layaknya orang-orang yg berada didaerah betha, multitasking adalah keniscayaan. Sambil berbincang konstruktif dengannya, sebuah kesadaran menyentak.
Kesadaran pertama adalah sebagai seorang leader yang begitu buncah mendapat kualified people, sedangkan kesadaran kedua sepertinya yang lebih menarik untuk diulas. Kesadaran kedua adalah kenyataan bahwa si 'Rahul Khan' yang ternyata cerdas ini, telah menyebrangi samudra untuk bekerja di tanah asing demi sesuap nasi tentunya. Dia adalah prototype produk local tempaan kerasnya tanah Hindustan yang meramaikan pasar global, dan arenanya kebetulan adalah Jakarta.
Masih berbincang dengannya, ingatan sejurus melayang ke semarang, tempat salah seorang manajer muda dari shenzen meniti karir. Mereka sama-sama muda, berkemauan keras, punya mental dan kemampuan verbal yang mumpuni. Anak Gujarat dan Shenzen ini merupakan contoh produk globalisasi yang menyesaki persaingan kerja di negeri ini, dan begitulah realitas mengalir. Sejurus kemudian kesadaran bergeser pada gambaran kelam yang ada di depan mata tentang anak-anak negeri. Engineer-engineer local yang mayoritas memiliki verbal yang buruk, mental rata-rata, komunikasi yang memble, fighting spirit yang lemah, serta ownership dan responsibility yang mengecewakan.
Jelas ada yang salah dengan kita, dan terlalu panjang untuk merunut dosa kebelakang manakala semakin banyak 'rahul khan', 'jet li', 'ipin dan upin' dan banyak lagi anak-anak dari rahim globalisasi yang membanjiri negeri. Ini globalisasi dan realitas ini tak terelakan. 'The world is flat' kata Friedman sedangkan Smick bilang 'the world is curve'. Menurutku 'The world around us is shrink'.
Dengan persaingan bebas yang jaraknya hanya satu siku (karena si rahul khan ini duduk diantara kita), tak ada pilihan selain berbenah diri dan bangun dari mimpi bahwa 'ini negeri subur dan kita tidak akan mati karena apapun yang ditanam akan tumbuh'. Ya, kita tidak akan mati secara fisik tapi kita akan mati secara mental. Tubuh-tubuh tegap tanpa jiwa, tanpa fighting spirit, tanpa visi, tanpa mentalitas akan menjadi 'jongos' dihalaman belakang globalisasi, dan kita tidak ingin menjadi 'jongos'. Tidak sekarang dan tidak kapanpun …
… ini Semarang … (sebuah ruang kosmis kecil kami … sebuah fragment)
Semua dimulai 8 April 2008, tepat
1 tahun 4 bulan yang lewat. Jalan hidup membuat langkah menjejak Semarang,
sebuah ibukota propinsi yang dipadankan dengan kemahsyuran Laksamana Ceng Ho, 603
tahun silam. Sebuah ruang kosmis kecil terbuka seiring dengan terbukanya sebuah
daun pintu (yang kelak karena sebuah kepanikan ‘perang kecil’ tercerabut oleh
tangan kasar dari seorang petani kentang dari bantaran Bromo). Wajah-wajah curious menoleh ringan mendengar sebuah
salam yang memecah keheningan di pagi yang bernas (sebuah salam yang kelak
secara pronunciation menjadi ciri
khas kami). Sejurus kemudian interaksi dimulai, dipandu oleh sang Lavecchia Signora. Setelah itu kerja
bersama dalam sebuah teamdeliverable-nya.
En-samble di getarkan, semua alat musik menderu sepanjang waktu dengan lyric ‘project deliverable’, symponi ‘time plan’, dan nada dasar ‘basic need’ dan chorus ‘personal actualitation’. dimulai
dengan berbagai macam
Kampung kali 23, lebih tepatnya
sebuah (again ‘humble’) house dengan
tiga gifted bonus. ‘nice looking’ toilet, pemadaman bergilir
favoriteengineer (terutama gank tembalang, I’m gonna missed your afternoon shout out guys), dan show off and exhibitionis ghost (will miss your fairytale, guys). semua
Ini semarang, Cuk! (don’t get serious with this term, ini
adalah personifikasi intim dan perbaikan makna dalam ruang kosmis kecil kami
sebagai perwujudan dinamisasi grammar
lokal). Disini semua geliat humaniora (yang tentu saja berbasis hubungan
bisnis, karena kami berada disini untuk itu) di elaborasi dengan begitu intens.
Mungkin sebagian dikerjakan begitu saja, bahkan sebagian tak ambil pusing, tapi
sepertigeliat ‘masalah-masalah hati
nurani manusia di zaman kita’ nya Camus, dalam surat penghargaan nobelnya,
kesadaran bahwa ‘basis hubungan bisnis’ adalah satu bagian, sedangkan
inter-relasi yang bermuara ke hal-hal yang lebih universalis adalah bagian lain
dan terasa begitu kental dalam keseharian. Ada keseriusan yang bisa diselesaikan
dengan canda, cinta yang terjalin karena rasa, ketegangan tidak konstruktif
yang berakhir dengan pelukan, silang pendapat yang berujung jalan pintas,
sampai kesadaran akan pentingnya sebuah keunggulan komparatif nya (you name it) Adam Smith, David Ricardo,
Johan Nurberg, Kenichi Ohmae (yang tidak berarti melulu kami mendukung
neo-lib), yang mengantarkan CJ sebagai salah satu yang terbaik.
Ini Semarang, Pak Boss! lepas
dari segala kelindan profesionalisme, ekstrem
kuliner, wisata eksotis dan intimisasi relasi sosial dan interaksi yang begitu
membaur dan ‘modest’ dari berbagai
suku budaya di nusantara, yang menemukan oase terbaiknya di kota yang begitu
strategis ini, semarang adalalah tempat ber-iqra, tempat gagasan-gagasan liar
sekaligus keteraturan dilahirkan, landasan pijak bagi banyak ide di telurkan. At least, itulah yang begitu terasa di
dunia kosmis kecil kami, sebuah axis fisik spasial yang kami nickname-kan
‘kampung kali’, dan kami adalah bagian dari perjalanan yang membentuk sejarah
kecil kami.
Dan seperti semua perjalanan,
setiap perjalanan memiliki tepi … bahwa hidup dijalani dan dijabani dengan
karya dan karsa melalui masaknya evaluasi dan kontemplasi yang melahirkan
sebuah tindakan, adalah raison d’etre
bagi keberadaan dan keberlanjutan mahluk paling mulia di bumiNya ini … dan bagi
keberadaan sebuah tempat yang akan selalu ada bagi kami … Semarang
Seorang
Biologi evolusioner terkemuka, Richard Dawkins, menerbitkan sebuah buku berjudul
The Selfish Gene, pada tahun 1976.
Sebuah buku yang memberi satu langkah besar ke depan kepada teori evolusi.
Dalam bukunya Dawkins menyatakan bahwa evolusi tidak terjadi antar spesies atau
bahkan antar organisme, tetapi antar gen-dan bahwa gen-gen ini ‘egois’. Teori
ini menjadi sumbangan penting untuk bidangnya sehingga Dawkins memperoleh
sambutan besar.
Anehnya,
kontribusi Dawkins kepada masyarakat yang paling tersebar luas adalah
gagasannya yang sangat berbeda, yaitu gagasan dari satu bab yang agak melantur
didalam bukunya. Didalam bab itu, Dawkins menghubungkan bidang evolusi genetika
dengan evolusi kebudayaan-dan membuat hubungan itu jelas. Dia menyatakan bahwa ide-ide, yang merupakan komponen kebudayaan
kita, tumbuh dan berkembang biak persis seperti gen. Dia menyebut komponen
ini mem,
dan menulis dalam bukunya sebagai berikut:
Contoh dari mem adalah lagu, gagasan, jargon, mode
pakaian, cara membuat pot, atau cara membangun gedung. Seperti halnya gen
berkembang biak dalam kolam gen dengan meloncat dari tubuh ke tubuh melalui
sperma dan sel telur, demikian juga mem
berkembang biak dalam kolam mem
dengan meloncat dari otak ke otak melalui suatu proses yang, dalam pengertian
luas, bisa disebut imitasi
Ide
atau mem bersaing, dalam makna yang
sesungguhnya, untuk mendapatkan tempat dalam pikiran kita. Beberapa mem bertahan dan berubah, yang lainnya
lambat-laun mati; prosesnya sama dengan evolusi genetika. Gagasan ini akhirnya
meluncurkan sebuah bidangnya sendiri yang kita kenal sebagai memetika.
Konsep
mem merebak dengan sangat pesat dan
kini telah menjadi suatu cara bagi para ahli pemasaran, sosiologi, dan sejarah
untuk menerangkan, memprediksi, dan memengaruhi fenomena budaya. Misalnya,
dalam bukunya yang laris, The Tipping
Point, Malcolm Gladwell menjelaskan bagaimana Hush Puppy berubah dari
bisnis sepatu yang ketinggalan zaman dengan penjualan mandek menjadi bisnis
aksesori bergaya yang terkenal hanya dalam beberapa tahun melalui proses yang
bisa disebut wabah virus ide. Sekarang banyak strategi pemasaran didasarakan
pada pemikiran bahwa gagasan dan mode bertindak seperti virus saat menyebar
melalui pikiran orang-orang.
Semarang, 15 July 2009 taken from 'Medici Effect' by Frans Johansson
hampir patah arang aku memanggil manggil mu tapi kau tak pernah menjawab barang sekejap
dirimu begitu jauhnya terlihat, bagai siluet di temaram tubir senja ... tak tersentuh walau terlihat ... bak kabut tipis nan dingin di relung pagi ... begitu tipis ... menebarkan kesegaran di pangkal merih yg haus di pagi hari ..
tak tau kah bahwa aku tak menunggu mu pagi ini saja? tak taukah kau bahwa aku menunggumu sedari malam? menunggu .. tertipu oleh kelindan gelapnya malam dan bias rembulan ..
menunggu .. berharap .. akan hadirmu walau hanya dalam sekejap terluka ... putus asa .. memupus impian, harapan akan sebuah bayang
tapi pagi ini semburat mentari pagi yg muncul di ufuk itu ... membuyarkan semua angan dan harapan dari ...lena nya malam dari ... dinginnya penghujung malam dari penatnya sebuah penantian sonder harapan ....
.... bahwa hidup dimulai lagi pagi ini tanpa bayang bayang ....
Semarang, 1 April 2009 picture taken from fino collection