Tentang Kami :

Blog ini di launch bertepatan dengan hari jadi dari salah seorang pembuatnya. Sebagai sarana untuk mengeluarkan buah pikir adalah tujuan kami memutuskan untuk memilih Blog, disamping kemudahan dan cepatnya informasi tercerap.
Pengusung Blog ini adalah :
1. Jihan Mirzah
2. Mujib Burahman


   

<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31




Sis ... mungkin salah satu fase fragmen hidup,
dimulai diterik siang ini ......
Matraman, 23 Februari 2005


site yg direkomendasi :
Pramoedya Page
Fritjof Capra
Muslim Filosofi
Islam Liberal


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed




Friday, April 15, 2011
Galau pada suatu pagi 18 Januari



Basah lembab pada suatu pagi di medio januari

Basah suatu hari yang hijau pada hati yang galau

Basah hati kami hamba hamba Mu pada suatu pagi yang temaram

Basah semangat kami tetap, laksana genangan yang mengalir mengisi relung

Kami bergerak, kami berserak menjemput takdir menjumput impian

Kami tebar segenap asa, kami jejak segala kemungkinan

Tapi yaa zalzalali wal ikram sepertinya jalan kami selalu bersua mancal

Tapi yaa rabbal alamin dalam tengadah kami di bumi Mu ini

Tak lekanglah kami akan safaat Mu.

Tak penat lah kami akan ikhtiar untuk masa yang lebih baik

Tak ingkarlah kami pada sunatullah bahwa lepas mendung pasti menjelang mentari ..

.. Berapa lama pun itu ..

Posted at 07:34 pm by jihan_mirzah
Comments  

Sunday, February 21, 2010
Globalisasi dan Kita

Sepertinya tidak ada yang istimewa hari itu, Jumat, 9 October 2009. Tapi pagi itu sang SM menyapa sembari memperkenalkan seorang pria muda berpenampilan laiknya Rahul Khan. Ya, seorang engineer india datang pagi itu. Keberadaannya melengkapi team yang memang sedang di ramp up, sesuai dengan resource dimensioning bapak delivery head.

Agak tidak meyakinkan pada impresi pertama. Itu kesan yang timbul. Sampai di sore hari ketika kantor mulai sepi, waktu untuk berdiskusi dengannya datang. Don't just the book by its cover adalah pelajaran pertama yang didapat hari itu. Lepas dari englishnya yang fluent, pengetahuan teknikal dan pengalaman kerjanya sungguh diatas rata-rata. Dan seperti layaknya orang-orang yg berada didaerah betha, multitasking adalah keniscayaan. Sambil berbincang konstruktif dengannya, sebuah kesadaran menyentak.

Kesadaran pertama adalah sebagai seorang leader yang begitu buncah mendapat kualified people, sedangkan kesadaran kedua sepertinya yang lebih menarik untuk diulas. Kesadaran kedua adalah kenyataan bahwa si 'Rahul Khan' yang ternyata cerdas ini, telah menyebrangi samudra untuk bekerja di tanah asing demi sesuap nasi tentunya. Dia adalah prototype produk local tempaan kerasnya tanah Hindustan yang meramaikan pasar global, dan arenanya kebetulan adalah Jakarta.

Masih berbincang dengannya, ingatan sejurus melayang ke semarang, tempat salah seorang manajer muda dari shenzen meniti karir. Mereka sama-sama muda, berkemauan keras, punya mental dan kemampuan verbal yang mumpuni. Anak Gujarat dan Shenzen ini merupakan contoh produk globalisasi yang menyesaki persaingan kerja di negeri ini, dan begitulah realitas mengalir. Sejurus kemudian kesadaran bergeser pada gambaran kelam yang ada di depan mata tentang anak-anak negeri. Engineer-engineer local yang mayoritas memiliki verbal yang buruk, mental rata-rata, komunikasi yang memble, fighting spirit yang lemah, serta ownership dan responsibility yang mengecewakan.

Jelas ada yang salah dengan kita, dan terlalu panjang untuk merunut dosa kebelakang manakala semakin banyak 'rahul khan', 'jet li', 'ipin dan upin' dan banyak lagi anak-anak dari rahim globalisasi yang membanjiri negeri. Ini globalisasi dan realitas ini tak terelakan. 'The world is flat' kata Friedman sedangkan Smick bilang 'the world is curve'. Menurutku 'The world around us is shrink'.

Dengan persaingan bebas yang jaraknya hanya satu siku (karena si rahul khan ini duduk diantara kita), tak ada pilihan selain berbenah diri dan bangun dari mimpi bahwa 'ini negeri subur dan kita tidak akan mati karena apapun yang ditanam akan tumbuh'. Ya, kita tidak akan mati secara fisik tapi kita akan mati secara mental. Tubuh-tubuh tegap tanpa jiwa, tanpa fighting spirit, tanpa visi, tanpa mentalitas akan menjadi 'jongos' dihalaman belakang globalisasi, dan kita tidak ingin menjadi 'jongos'. Tidak sekarang dan tidak kapanpun …

Jakarta, 11 Oktober 2009

Posted at 08:34 pm by jihan_mirzah
Comments  

Saturday, August 08, 2009
… ini Semarang … (sebuah ruang kosmis kecil kami … sebuah fragment)

Semua dimulai 8 April 2008, tepat 1 tahun 4 bulan yang lewat. Jalan hidup membuat langkah menjejak Semarang, sebuah ibukota propinsi yang dipadankan dengan kemahsyuran Laksamana Ceng Ho, 603 tahun silam. Sebuah ruang kosmis kecil terbuka seiring dengan terbukanya sebuah daun pintu (yang kelak karena sebuah kepanikan ‘perang kecil’ tercerabut oleh tangan kasar dari seorang petani kentang dari bantaran Bromo). Wajah-wajah curious menoleh ringan mendengar sebuah salam yang memecah keheningan di pagi yang bernas (sebuah salam yang kelak secara pronunciation menjadi ciri khas kami). Sejurus kemudian interaksi dimulai, dipandu oleh sang Lavecchia Signora. Setelah itu kerja bersama dalam sebuah teamdeliverable-nya. En-samble di getarkan, semua alat musik menderu sepanjang waktu dengan lyric ‘project deliverable’, symponi ‘time plan’, dan nada dasar ‘basic need’ dan chorus ‘personal actualitation’. dimulai dengan berbagai macam

Kampung kali 23, lebih tepatnya sebuah (again ‘humble’) house dengan tiga gifted bonus. ‘nice looking’ toilet, pemadaman bergilir favoriteengineer (terutama gank tembalang, I’m gonna missed your afternoon shout out guys), dan show off and exhibitionis ghost (will miss your fairytale, guys). semua

Ini semarang, Cuk! (don’t get serious with this term, ini adalah personifikasi intim dan perbaikan makna dalam ruang kosmis kecil kami sebagai perwujudan dinamisasi grammar lokal). Disini semua geliat humaniora (yang tentu saja berbasis hubungan bisnis, karena kami berada disini untuk itu) di elaborasi dengan begitu intens. Mungkin sebagian dikerjakan begitu saja, bahkan sebagian tak ambil pusing, tapi seperti  geliat ‘masalah-masalah hati nurani manusia di zaman kita’ nya Camus, dalam surat penghargaan nobelnya, kesadaran bahwa ‘basis hubungan bisnis’ adalah satu bagian, sedangkan inter-relasi yang bermuara ke hal-hal yang lebih universalis adalah bagian lain dan terasa begitu kental dalam keseharian. Ada keseriusan yang bisa diselesaikan dengan canda, cinta yang terjalin karena rasa, ketegangan tidak konstruktif yang berakhir dengan pelukan, silang pendapat yang berujung jalan pintas, sampai kesadaran akan pentingnya sebuah keunggulan komparatif nya (you name it) Adam Smith, David Ricardo, Johan Nurberg, Kenichi Ohmae (yang tidak berarti melulu kami mendukung neo-lib), yang mengantarkan CJ sebagai salah satu yang terbaik.

Ini Semarang, Pak Boss! lepas dari segala kelindan profesionalisme, ekstrem kuliner, wisata eksotis dan intimisasi relasi sosial dan interaksi yang begitu membaur dan ‘modest’ dari berbagai suku budaya di nusantara, yang menemukan oase terbaiknya di kota yang begitu strategis ini, semarang adalalah tempat ber-iqra, tempat gagasan-gagasan liar sekaligus keteraturan dilahirkan, landasan pijak bagi banyak ide di telurkan. At least, itulah yang begitu terasa di dunia kosmis kecil kami, sebuah axis fisik spasial yang kami nickname-kan ‘kampung kali’, dan kami adalah bagian dari perjalanan yang membentuk sejarah kecil kami.

Dan seperti semua perjalanan, setiap perjalanan memiliki tepi … bahwa hidup dijalani dan dijabani dengan karya dan karsa melalui masaknya evaluasi dan kontemplasi yang melahirkan sebuah tindakan, adalah raison d’etre bagi keberadaan dan keberlanjutan mahluk paling mulia di bumiNya ini … dan bagi keberadaan sebuah tempat yang akan selalu ada bagi kami … Semarang

Semarang-Cibubur, 8 Agustus 2009


Posted at 06:12 pm by jihan_mirzah
Comments  

Wednesday, July 15, 2009
Memetika


Seorang Biologi evolusioner terkemuka, Richard Dawkins, menerbitkan sebuah buku berjudul The Selfish Gene, pada tahun 1976. Sebuah buku yang memberi satu langkah besar ke depan kepada teori evolusi. Dalam bukunya Dawkins menyatakan bahwa evolusi tidak terjadi antar spesies atau bahkan antar organisme, tetapi antar gen-dan bahwa gen-gen ini ‘egois’. Teori ini menjadi sumbangan penting untuk bidangnya sehingga Dawkins memperoleh sambutan besar.

Anehnya, kontribusi Dawkins kepada masyarakat yang paling tersebar luas adalah gagasannya yang sangat berbeda, yaitu gagasan dari satu bab yang agak melantur didalam bukunya. Didalam bab itu, Dawkins menghubungkan bidang evolusi genetika dengan evolusi kebudayaan-dan membuat hubungan itu jelas. Dia menyatakan bahwa ide-ide, yang merupakan komponen kebudayaan kita, tumbuh dan berkembang biak persis seperti gen. Dia menyebut komponen ini mem, dan menulis dalam bukunya sebagai berikut:

Contoh dari mem adalah lagu, gagasan, jargon, mode pakaian, cara membuat pot, atau cara membangun gedung. Seperti halnya gen berkembang biak dalam kolam gen dengan meloncat dari tubuh ke tubuh melalui sperma dan sel telur, demikian juga mem berkembang biak dalam kolam mem dengan meloncat dari otak ke otak melalui suatu proses yang, dalam pengertian luas, bisa disebut imitasi

Ide atau mem bersaing, dalam makna yang sesungguhnya, untuk mendapatkan tempat dalam pikiran kita. Beberapa mem bertahan dan berubah, yang lainnya lambat-laun mati; prosesnya sama dengan evolusi genetika. Gagasan ini akhirnya meluncurkan sebuah bidangnya sendiri yang kita kenal sebagai memetika.

Konsep mem merebak dengan sangat pesat dan kini telah menjadi suatu cara bagi para ahli pemasaran, sosiologi, dan sejarah untuk menerangkan, memprediksi, dan memengaruhi fenomena budaya. Misalnya, dalam bukunya yang laris, The Tipping Point, Malcolm Gladwell menjelaskan bagaimana Hush Puppy berubah dari bisnis sepatu yang ketinggalan zaman dengan penjualan mandek menjadi bisnis aksesori bergaya yang terkenal hanya dalam beberapa tahun melalui proses yang bisa disebut wabah virus ide. Sekarang banyak strategi pemasaran didasarakan pada pemikiran bahwa gagasan dan mode bertindak seperti virus saat menyebar melalui pikiran orang-orang.

Semarang, 15 July 2009
taken from 'Medici Effect' by Frans Johansson

Posted at 09:46 am by jihan_mirzah
Comments  

Wednesday, April 01, 2009
.. harapan diujung malam ...



hampir patah arang aku memanggil manggil mu
tapi kau tak pernah menjawab barang sekejap

dirimu begitu jauhnya terlihat, bagai siluet di temaram tubir senja ...
tak tersentuh walau terlihat ... bak kabut tipis nan dingin di relung pagi ...
begitu tipis ... menebarkan kesegaran di pangkal merih yg haus di pagi hari ..

tak tau kah  bahwa aku tak menunggu mu pagi ini saja?
tak taukah kau bahwa aku menunggumu sedari malam? menunggu ..
tertipu oleh kelindan gelapnya malam dan bias rembulan ..

menunggu .. berharap .. akan hadirmu walau hanya dalam sekejap
terluka ... putus asa .. memupus impian, harapan akan sebuah bayang

tapi pagi ini semburat mentari pagi yg muncul di ufuk itu ...
membuyarkan semua angan dan harapan
dari ...lena nya malam
dari ... dinginnya penghujung malam
dari penatnya sebuah penantian sonder harapan ....

.... bahwa hidup dimulai lagi pagi ini tanpa bayang bayang ....

Semarang, 1 April 2009
picture taken from fino collection

Posted at 05:47 pm by jihan_mirzah
Comments  

Next Page